Sabtu, 01 Oktober 2016

Kemarau.

Hai wiji, sudah rindukah kau diziarahkan, apa arwahmu masih melayang-layang, apa masih ada pesan belum tersampaikan?

Hai wiji, fajar merah sudah dewasa seringkah engkau masuk menyusup lewat mimpi.

Kubaca tulisan kemaraumu setahun sebelum engkau menghilang.
Barang kali pesan belum semuanya tersampaikan.

Aku ingin melanjutkan tulisanmu, harapku mudah-mudahan sesuai harapmu.
Terimakasih Wiji Thukul.

---------------------------------------------------------------

Kemarau - Wiji Thukul

ember kosong

gentong melompong

baju jemuran

seng atap rumah

menyilaukan mata

bumi menguap

blingsatan anjing

kucing kurap

dan gelandangan

berjingkat-jingkat

melewati restoran

dan super market

yang mewah dan angkuh

ada bau bensin

di parkiran mobil

ada bau parfum

setelah pintu dibanting

ada lalat hijau

mendengung

berputar-putar

di kotamu ini

mencari bangkai

barangkali itu

dirimu

atau diriku

siapa tahu

kita telah membusuk

diam-diam

1 januari 1997

Harapku tulisanku menyambung lidah dari alam nirwana.

Selagi kakiku masih menginjak bumi izinkan aku meneruskannya.

Sebelum kita bersua di surga ataupun neraka.

---------------------------------------------------------------

Kemarau (2)

Mereka berjas kini mengantikan abrasi ombak.

Daratan secuil demi secuil dihilangkan oleh kertas perundang-undangan.

Nelayan tersingkir, mereka hanya pekerjaan yg amis keringatnya.

Alam bersendu , lalu menangis, hujan turut merintik.

Kemarau murka dan diam .
Melihat alam yang mengharu.

Gelandangan, kucing kurap, dan blingsatan anjing, seharusnya bebas berkepala sandar kepadaku

Kata alam.

Lalu kenapa dan atas dasar apa hal ini dilarang kaumnya.

Kemarau tetap diam, menhujam bumi dengan tatapan tajam.

Berharap manusia lebih menjadi beserah.

Berharap manusia melepas jas nya yang ketat setara ksatria.

Berharap manusia berkeringat dan meluluh lunturkan minyak dirambutnya.

Berharap manusia, berterimakasih atas tanah dan laut.

Tetapi tidak.

Kemarau tetap diam.
Musim hujan sudah berlalu.
Tidak ada tangis menangis diatas sana.
Yang ada hanya sedikit murka.
Menunggu sang maha memberi ilham.
Untuk alam kembali ke akhlaknya.

Untuk laut mengamuk.
Untuk tanah cemberut.
Untuk dewi dementer yang tersinggung.

Bumi ini sudah tidak subur.
Kemarau kembali mengasah tatapannya.
Lebih tajam drpd sebelumnya.

Kemudian kita menjadi korbannya dan jangan salahkan tanah ataupun laut ataupun langit.

02-10-2016
05:39
Minggu/Sabat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar