Rabu, 21 September 2016

Tamparan & Pembenaran

Kata seorang nyonya yang sering mengancam dan sebentar lagi dan akan hidup di zona realistis
"Tuan hidup belum lama. Tuan hidup masih sebatas tahu belum memahami. kontemplasi tanpa paham tak kan mendapat jawaban. Tuan mengandalkan premis Tuan sendiri, bagaimana dengan premis manusia lain? Tuan berbicara tentang rasa, tapi apa Tuan mengerti rasa manusia lain? Tuan menutup mata, hati, dan telinga. Tuan sangat mandiri. Tuan mampu hidup sendiri."

Kata seorang Tuan sebagai pembenaran yang mencoba tidak akan meninggalkan premisnya dan tetap pada pendirian untuk tidak berpremis lompat dan entah sampai  kapan sang tuan bertahan
"Memang nyonya, memang hamba belum hidup lama, setidaknya hamba sedang menggambarkan bagaimana rasanya mati rasa, benar nyonya , hamba masih hidup sebatas tahu bukan memahami tapi biarlah hamba mencoba untuk belajar memahami hidup dengan tahu terlebih dahulu,bukankah hidup butuh keseimbangan antara tahu dan tidak tahu, paham dan tidak paham? Nyonya tidak tahu progress yang hamba jalankan sekarang, tapi apakah nyonya sendiri paham dengan hamba? Kenapa berbicara demikian seakan-akan aku masih dibawah nyonya, iya nyonya aku membenarkan spekulasi nyonya karena moralitas orang tentang segalanya adalah sah dan hak setiap manusia, tapi kontemplasi yang kulakukan untuk memahami diriku sendiri lebih megerucut kedalam, kediriku sendiri, lebih kepada manfaat diri sendiri, tapi aku memimpikan kesejahteraan yang abadi, dengki bukan? Jahat bukan? Omong kosong bukan? Iya nyonya aku manusia yang jahat memikirkan diri sendiri, tapi bukannya nyonya sedemikian rupanya? ,  baiklah nyonya aku tidak akan mengerti premis orang , karena aku harus sepremis dengan orang tersebut, tapi balik lagi aku tidak ingin berpremis lompat, yang pada suatu keadaan aku pindah hanya untuk meminjam premis demi bertahan lalu balik ke premis awal nyonya, apakah nyonya mengerti dan paham? Sepertinya kita sama nyonya sebatas tahu dan tidak terlalu paham, dan aku tetap mengandalkan premis hamba, setidaknya untuk hidupku yang baru seumur jagung, biarkanlah aku belajar, sedikit mengerti dan memperjuangkan mimpi, sedikit idealis dan tidak mau kalah, tapi nyonya yang merasa diatas premisku ataupun memang benar benar sudah diatas, seharusnya bisa mengerti akan itu, bukan kah nyonya sudah lebih lama hidup ketimbang hamba? Iya itu betul nyonya, aku menceritakan rasaku, aku , aku dan ke-Aku-anku, tanpa memandang rasa orang lain, tapi dengan begitu dan itu polaku, aku lebih mengasah rasaku, dan di saat bersamaan aku melupakan rasaku, mungkin lebih ke ranah sosial pertemanan dan kerabat dan hubungan sahabat, tidak pada cinta, tapi maaf jika aku tidak mengerti perasaanmu, dan nyonya pun berspekulasi bahwa aku sering menyilet perasaan orang orang yang tidak kupesan untuk datang, ya aku ingin mandiri sendiri, aku tidak takut sendiri, Tuhan pun sendiri dan dengan itu dia menyandang gelar sang Maha, sedikit kutipan soe hok gie, tapi apapun itu nyonya sudah lebih unggul ketimbanh hamba, aku mengerti ini tamparan dan tulisan ini sebagai pembenaran agar aku sendiri tidak melompat dari premis yang kugenggam teguh, biarlah aku begini, tersiksa atau nyaman itu urusanku, sampai tamparan keras terakhir dari alam dan Tuhan, mengajarkan ku untuk tidak seperti ini, setidaknya aku menaikkan levelku, ini polaku, aku tau ini sakit dan supaya aku tahu rasa sakit, dan lebih menghargai raga dan batinku biarlah aku seperti ini, semoga spekulasi yang nyonya buat, bukan semata-mata rasa kecewa dan pembalasan semata, semoga itu peringatan dan tamparan yang baik bahwa premis dan hidup yang kujalani sekarang adalah kurang baik, semoga nyonya mengerti.
Semoga.
Ya, Semoga."

Akhir kata ini kupersembahkan dengan jujur sebagai rasa kecewa dan terimakasih atas peringatannya.

Kembalilah ke hatimu yang lama, yang nyonya dengkikan, dan nyonya kutukki kemarin-kemarin.

22-09-2016.
10.59 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar