Sanda terperangkap oleh kata-kata para penyemu.
Kesturi diberi mandat menjadi bidak di papan catur.
Kesturi wajib mati demi narapati, dan itu fitrah.
Dan kata fitrah adalah pergantian kata yang halus untuk sebuah kodrat mati luhur.
Dan itu luhur entah untuk siapa. Entah untuk para sayahanda atau untuk narapati.
Maksud hati disini untuk belajar.
Sanda maju ke meja para narapati.
Mendapati ilham dan amanat yang wangi dan ranum melati
Sanda tergejolak, terpesona oleh kata-kata yang lembut nan wangi.
Sanda ingin menanam bibit ilmu dari petikan bijak sang narapati.
Berharap akan tumbuh pohon beringin di gurun pasir.
Sampai musim akhirnya berganti.
Narapati memperkenalkan sayahanda-Nya kepada para kesturi dan sanda sendiri.
Narapati mengaggung-aggungkan sayahanda-Nya ke khalayak ramai.
Narapati mulai menjatuhkan sayahanda yang lain.
Narapati mulai ajang bergengsi sesama narapati.
Lomba pencarian muka pun dimulai untuk dan khusus para narapati.
Dahulu kata-kata adalah baik adanya, harum bila dihirup, manis bila dikecap, khusuk bila didengar.
Sampai akhirnya sanda menyadari para narapati menyulap kata-kata menjadi belati.
Inikah yang kau sebut sastra?
Inikan paham-mu, bahwa mereka yang mencintai berkata-kata, adalah orang berperasa nan kuat.
Bukankah orang berperasa nan kuat cepat sakit rasanya?
Kau yang mencintai kata-kata dan sastra, wahai para sastrawan-sastrawan muda.
Lantas mengapa mengumpat dan mendengki dan mengeluh ketika menjadi pendengar?
Inikah yang kau sebut sastra? inikah yang kau bilang ranumnya wangi berkata-kata wahai para narapati?
Lantas mengapa berubah menjadi racun bagi penikmatnya?
Disini di meja para narapati.
Terlalu banyak para narapati ingin menaikan dagu.
Ada narapati yang pengkritik penindasan dan perbudakan.
Tapi mematikan karakter teman-temannya sendiri.
Ada narapati yang sendu mendayu.
Tapi hanya ingin sendu dan mendayunya dikumandangkan.
Ada narapati yang merasa tahu semua.
Lantas buat apa dia hidup? Apabila tahu semua.
Bukankah kehidupan butuh keseimbangan antara tahu dan tidak tahu?
Inikah sastra? Menulis untuk paling dilihat, berkata-kata untuk paling didengar.
Adakah puisi yang berisi untuk menyenangkan hati kaum para,pengemis,pembangkang,pembohong,penzinah,pencuri,pecinta sesama jenis,pelacur, dan semua yang dianggap narapati adalah kotor.
Adakah tulisan untuk kita sebar sebagai pengharapan.
Jawabannya, ada memang ada dan pasti ada.
Tapi sudah memudar di zaman ini.
Sembari sanda terhening oleh pergumulan pikiran yang sedikit melukai.
Gumaman para narapati semakin meninggi.
Mereka mencoba mendominasi satu sama lain.
Syahanda sebagai penengah tapi Syahanda mulai terpengaruh ajang kompetisi.
Dan pada akhir musim dan zaman ini, sanda menghancurkan pikiran yang tertanam , yang mereka tanam.
Bibit itu kubongkar dari tanahnya dan kubuang diatas kerikil.
Aku ingin berkata-kata bebas.
Aku ingin berkarya semampauku melihat dunia.
Tanpa dibatasi dan dipengaruhi rasaku oleh dia sang syahanda yang kalian agungkan.
Narapati.
Narapati.
Kesturi mulai meniru narapati.
Sampai kapan ikatan dengki ini berakhir?
Dan pada akhiran nada mendengki dan membenci ini.
Sanda menyadari bahwa kiasan kata-kata ini dan tulisan-tulisan ini,
Adalah cerminan saya sendiri.
Saya meminum racun saya sendiri.
16-09-2016.
04.09.
Jam menyayat daun telingaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar