Jumat, 30 September 2016

LAHIRLAH DAIVA.

Terimakasih Dewi Artemis,
atas nuansa haru sang bunda meniduri darah.

Terimakasih Dewi Athena,
atas kebijaksanaan yang engkau bisikkan kepada sang bunda untuk menahan sakit.

Terimakasih Dewi Demeter,
atas panen yang menyuburkan bumi dan rezeki melimpah ruah di bulan november.

Terimakasih Dewi Afrodit, sifat keduniaanmu yang turun bersama sang bunda dan ayah terjatuh cintanya,
atas cincin yang dipasang dijari manis sang bunda,
 kuucapkan sekali lagi selamat jalan.

Terimakasih Dewi Hestia, 
setelah dari sini rumah itu akan menyala perapian paling terang dan hangat.


 -

Terimakasih Dewa Algea dan Amekhania, 
terimakasih sudah berkunjung, bunda sudah menang.

Terimakasih Dewa Ares, 
atas ketidakhadiranmu disaat sang bunda berperang ditengah jembatan hidup dan mati.

Terimakasih Dewa Hermes, 
pesanmu sudah diterima Bunda dan Ayah, diberkati perjalananmu menuju Olimpus.

Terimakasih Dewa Apollo, 
atas tulisan masa depan kepada sang bunda dan sang ayah yang akan melahirkan daiva.

Terimakasih Dewa Hades,
telah mendengar doa sang bunda, bahwa akan ada waktu dimana daiva berada di tahap paling gelap,
mohon bimbingan.

Terimakasih Dewa Dionisos,
kau perkenalkan dan perkenankan sang daiva untuk merasa kekuatan kata-kata.

Terimakasih Hefaistos,
Besi adalah zamanku, bukan tanah lagi seperti ayahku.

-

Salam hangat kepadamu wahai para penghuni Olimpus.

Yang hitam maupun yang putih.

Yang diatas maupun di bawah.

Yang diusir maupun menetap.

Yang jatuh dan Yang diagungkan.

Yang pelayan maupun pemberontak.

Yang dibenci maupun dicinta.

Ditolak maupun diterima.

Sebab selalu ada kasih dalam kalian semua.

Atas dasar itu aku berwangsit terimakasih.

Atas itu semua terimakasih sudah mengizinkan aku terlahir di bumi.

Walaupun akan menjadi sisifus.

Kuminta bahagia jatuh deras bersama rintik hujan.

-

Dan

Kepada Alpha & Omega.

Awal & Akhir.

Harap-ku menuntut pada hari ini.

Harap-ku ingin bukan butuh pada hari ini.

Harap-ku meredam sendayu menjadi nada dengki hari ini.

Kepada-Mu Tuhan Sang Maha segalanya.

Bimbing aku di fase ini.

Bimbing aku melepas.

Lalu berserah.

Harapku Tuhan.

Jangan Murka.

Selamanya.

Sampai tanah melahapku.

Hingga kuku terakhir.

-

Sabtu, 30-09-2016.
03:09.



Rabu, 21 September 2016

Tamparan & Pembenaran

Kata seorang nyonya yang sering mengancam dan sebentar lagi dan akan hidup di zona realistis
"Tuan hidup belum lama. Tuan hidup masih sebatas tahu belum memahami. kontemplasi tanpa paham tak kan mendapat jawaban. Tuan mengandalkan premis Tuan sendiri, bagaimana dengan premis manusia lain? Tuan berbicara tentang rasa, tapi apa Tuan mengerti rasa manusia lain? Tuan menutup mata, hati, dan telinga. Tuan sangat mandiri. Tuan mampu hidup sendiri."

Kata seorang Tuan sebagai pembenaran yang mencoba tidak akan meninggalkan premisnya dan tetap pada pendirian untuk tidak berpremis lompat dan entah sampai  kapan sang tuan bertahan
"Memang nyonya, memang hamba belum hidup lama, setidaknya hamba sedang menggambarkan bagaimana rasanya mati rasa, benar nyonya , hamba masih hidup sebatas tahu bukan memahami tapi biarlah hamba mencoba untuk belajar memahami hidup dengan tahu terlebih dahulu,bukankah hidup butuh keseimbangan antara tahu dan tidak tahu, paham dan tidak paham? Nyonya tidak tahu progress yang hamba jalankan sekarang, tapi apakah nyonya sendiri paham dengan hamba? Kenapa berbicara demikian seakan-akan aku masih dibawah nyonya, iya nyonya aku membenarkan spekulasi nyonya karena moralitas orang tentang segalanya adalah sah dan hak setiap manusia, tapi kontemplasi yang kulakukan untuk memahami diriku sendiri lebih megerucut kedalam, kediriku sendiri, lebih kepada manfaat diri sendiri, tapi aku memimpikan kesejahteraan yang abadi, dengki bukan? Jahat bukan? Omong kosong bukan? Iya nyonya aku manusia yang jahat memikirkan diri sendiri, tapi bukannya nyonya sedemikian rupanya? ,  baiklah nyonya aku tidak akan mengerti premis orang , karena aku harus sepremis dengan orang tersebut, tapi balik lagi aku tidak ingin berpremis lompat, yang pada suatu keadaan aku pindah hanya untuk meminjam premis demi bertahan lalu balik ke premis awal nyonya, apakah nyonya mengerti dan paham? Sepertinya kita sama nyonya sebatas tahu dan tidak terlalu paham, dan aku tetap mengandalkan premis hamba, setidaknya untuk hidupku yang baru seumur jagung, biarkanlah aku belajar, sedikit mengerti dan memperjuangkan mimpi, sedikit idealis dan tidak mau kalah, tapi nyonya yang merasa diatas premisku ataupun memang benar benar sudah diatas, seharusnya bisa mengerti akan itu, bukan kah nyonya sudah lebih lama hidup ketimbang hamba? Iya itu betul nyonya, aku menceritakan rasaku, aku , aku dan ke-Aku-anku, tanpa memandang rasa orang lain, tapi dengan begitu dan itu polaku, aku lebih mengasah rasaku, dan di saat bersamaan aku melupakan rasaku, mungkin lebih ke ranah sosial pertemanan dan kerabat dan hubungan sahabat, tidak pada cinta, tapi maaf jika aku tidak mengerti perasaanmu, dan nyonya pun berspekulasi bahwa aku sering menyilet perasaan orang orang yang tidak kupesan untuk datang, ya aku ingin mandiri sendiri, aku tidak takut sendiri, Tuhan pun sendiri dan dengan itu dia menyandang gelar sang Maha, sedikit kutipan soe hok gie, tapi apapun itu nyonya sudah lebih unggul ketimbanh hamba, aku mengerti ini tamparan dan tulisan ini sebagai pembenaran agar aku sendiri tidak melompat dari premis yang kugenggam teguh, biarlah aku begini, tersiksa atau nyaman itu urusanku, sampai tamparan keras terakhir dari alam dan Tuhan, mengajarkan ku untuk tidak seperti ini, setidaknya aku menaikkan levelku, ini polaku, aku tau ini sakit dan supaya aku tahu rasa sakit, dan lebih menghargai raga dan batinku biarlah aku seperti ini, semoga spekulasi yang nyonya buat, bukan semata-mata rasa kecewa dan pembalasan semata, semoga itu peringatan dan tamparan yang baik bahwa premis dan hidup yang kujalani sekarang adalah kurang baik, semoga nyonya mengerti.
Semoga.
Ya, Semoga."

Akhir kata ini kupersembahkan dengan jujur sebagai rasa kecewa dan terimakasih atas peringatannya.

Kembalilah ke hatimu yang lama, yang nyonya dengkikan, dan nyonya kutukki kemarin-kemarin.

22-09-2016.
10.59 WIB

Kamis, 15 September 2016

Meja Para Narapati

Sanda terperangkap oleh kata-kata para penyemu.
Kesturi diberi mandat menjadi bidak di papan catur.
Kesturi wajib mati demi narapati, dan itu fitrah.
Dan kata fitrah adalah pergantian kata yang halus untuk sebuah kodrat mati luhur.
Dan itu luhur entah untuk siapa. Entah untuk para sayahanda atau untuk narapati.

Maksud hati disini untuk belajar.
Sanda maju ke meja para narapati.
Mendapati ilham dan amanat yang wangi dan ranum melati
Sanda tergejolak, terpesona oleh kata-kata yang lembut nan wangi.
Sanda ingin menanam bibit ilmu dari petikan bijak sang narapati.
Berharap akan tumbuh pohon beringin di gurun pasir.
Sampai musim akhirnya berganti.

Narapati memperkenalkan sayahanda-Nya kepada para kesturi dan sanda sendiri.
Narapati mengaggung-aggungkan sayahanda-Nya ke khalayak ramai.
Narapati mulai menjatuhkan sayahanda yang lain.
Narapati mulai ajang bergengsi sesama narapati.
Lomba pencarian muka pun dimulai untuk dan khusus para narapati.

Dahulu kata-kata adalah baik adanya, harum bila dihirup, manis bila dikecap, khusuk bila didengar.
Sampai akhirnya sanda menyadari para narapati menyulap kata-kata menjadi belati.

Inikah yang kau sebut sastra?
Inikan paham-mu, bahwa mereka yang mencintai berkata-kata, adalah orang berperasa nan kuat.
Bukankah orang berperasa nan kuat cepat sakit rasanya?
Kau yang mencintai kata-kata dan sastra, wahai para sastrawan-sastrawan muda.
Lantas mengapa mengumpat dan mendengki dan mengeluh ketika menjadi pendengar?
Inikah yang kau sebut sastra? inikah yang kau bilang ranumnya wangi berkata-kata wahai para narapati?
Lantas mengapa berubah menjadi racun bagi penikmatnya?

Disini di meja para narapati.
Terlalu banyak para narapati ingin menaikan dagu.
Ada narapati yang pengkritik penindasan dan perbudakan.
Tapi mematikan karakter teman-temannya sendiri.
Ada narapati yang sendu mendayu.
Tapi hanya ingin sendu dan mendayunya dikumandangkan.
Ada narapati yang merasa tahu semua.
Lantas buat apa dia hidup? Apabila tahu semua.
Bukankah kehidupan butuh keseimbangan antara tahu dan tidak tahu?

Inikah sastra? Menulis untuk paling dilihat, berkata-kata untuk paling didengar.
Adakah puisi yang berisi untuk menyenangkan hati kaum para,pengemis,pembangkang,pembohong,penzinah,pencuri,pecinta sesama jenis,pelacur, dan semua yang dianggap narapati adalah kotor.
Adakah tulisan untuk kita sebar sebagai pengharapan.
Jawabannya, ada memang ada dan pasti ada.
Tapi sudah memudar di zaman ini.

Sembari sanda terhening oleh pergumulan pikiran yang sedikit melukai.
Gumaman para narapati semakin meninggi.
Mereka mencoba mendominasi satu sama lain.
Syahanda sebagai penengah tapi Syahanda mulai terpengaruh ajang kompetisi.

Dan pada akhir musim dan zaman ini, sanda menghancurkan pikiran yang tertanam , yang mereka tanam.
Bibit itu kubongkar dari tanahnya dan kubuang diatas kerikil.

Aku ingin berkata-kata bebas.
Aku ingin berkarya semampauku melihat dunia.
Tanpa dibatasi dan dipengaruhi rasaku oleh dia sang syahanda yang kalian agungkan.
Narapati.
Narapati.
Kesturi mulai meniru narapati.
Sampai kapan ikatan dengki ini berakhir?

Dan pada akhiran nada mendengki dan membenci ini.
Sanda menyadari bahwa kiasan kata-kata ini dan tulisan-tulisan ini,
Adalah cerminan saya sendiri.
Saya meminum racun saya sendiri.

16-09-2016.
04.09.
Jam menyayat daun telingaku.


Minggu, 04 September 2016

Bohemian

Sedikit sepenggal kalimat dari tulisan yang kami gabung oleh Aron Shan Belammy dan aku.

"Dan pada akhirnya atap-atap mencibirku.
Mencari pada dasarnya menunduk.
Bukan menaikkan dagu.
Daku tertunduk."