Kenapa? Sepertinya lebih dominan untuk saya sendiri pribadi, sebuah kata tanya yang mengerikan, seperti rantai yang dipanaskan, lalu diikat ke kepala dan berbekas walaupun lukanya sudah tidak terasa. Dan ketika aku berkaca, lalu mata ini tertuju kepada bekas luka rantai panas itu, rantai itu seperti menyakitiku lagi, mengingat momen penyiksaan yang tak terobati.
Seperti kata tanya kenapa. Si kata tanya "kenapa" ini, adalah sebuah bibit unggul depresiku yang cepat tumbuhnya, lalu tanpa ada jawaban, si kata tanya "kenapa" ini menghujam tinjunya berkali-kali, menyiksaku memaksa untuk memberi jawaban, agar hantu "kenapa" ini hangus, dan puas raganya. Mungkin kata tanya "kenapa" inilah yang membuat lingkaran mataku kian lama kian menghitam, jam tidurku diobrak-abrik, ah! Dan yang parahnya lagi, kata tanya kenapa ini, tidak mau menerima jawaban apa adanya, yang sederhana, yang asal-asalan, dan banyak lagi, dia ingin diperlakukan istimewa, jawaban yang kuat yang membuat si kata tanya "kenapa" ini menghilang, dan tak berani keluar dari mulutku. Mari kubisikkan sedikit rahasiaku, Si "Kenapa"-ku ini jahat teman, iya si "Kenapa" dalam diriku ini jahat, dialah Sang Kenapa-ku.
Aku menulusuri pertanyaan-pertanyaan kenapa ku ini, dan semakin meraja lela, pertanyaan-pertanyaannya, seperti berada dalam satu kelas dan aku adalah korban bully-an, semakin hari semakin tersebar , semakin luas informasi yang disebarkan sang informan handal bahwa aku korban bully-an, yang sangat sangat lemah dan indah untuk dijadikan eksperimen-eksperimen hasrat kekejian anak-anak sekolah, dan pada akhirnya bukan hanya satu kelas yang menyiksaku, tetapi satu sekolah, begitulah merajalelanya pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan si "kenapa"-ku ini. Ini contoh merajalelanya si kenapaku ini, tertanam di otakku sebuah pertanyaan, dan tak lain dan tak bukan, dan sudah menjadi rahasia umum di kepalaku, bahwa si kenapa inilah pasti pelakunya. Dia bertanya begini " Kenapa daun warnanya hijau?" dengan ligat dan cepat terngiang sedikit pelajaran biologi waktu smp dulu, kujawab "daun mengandung zat klorofil atau disebut zat hijau daun yang membuat daun menjadi berwarna hijau." Lalu katanya "Kan ada daun tidak berwarna hijau, terus kenapa harus warna hijau? Kenapa tidak warna hitam? Bukannya daun butuh sinar matahari? Hitam itu lebih dominan menyerap panas bukan?" menelan ludah aku, lalu membalas "Begitulah ciptaan Tuhan." tiba-tiba dia menyiksaku, dengan rasa gelisah, dan aku juga tidak tau menuliskannya, ini diluar ranah ku, seperti suatu rasa yang belum ditemukan oleh manusia, belum tercatat dikamus, dan masih sangat primitif, dan itulah penyiksaannya, membuat mata terjaga, hati resah gelisah, pikiran lelah mencari jawaban yang handal.
Suatu hari, aku pergi untuk berkopi ria, berdua dengan seseorang yang sudah kuanggap abang sendiri, saudara dan keluargaku, namanyaa Aron Shan Belammy Kaligis, di kopi cowboy dekat ITB Bandung, aku banyak bercerita, berdiskusi, dan belajar dengan dia, dan mungkin saat itu adalah saat yang pas untuk kita berdiskusi tentang kehidupan.
Lalu tertunjuk dari jari saudaraku ini, tulisan "Bohemian" di dinding tempat kami duduk menikmati hidangan.
Bohemian = /bo·he·mi·an/ /bohémian/ n orang yang hidup bebas seperti kebanyakan seniman; orang yang hidup mengembara dan tidak teratur serta tidak memikirkan masa depannya.
Lalu aku membuat spekulasi, bahwa hidup seorang bohemian adalah mereka-mereka yang sangat-sangat menikmati dunia, tapi tetap tanpa tujuan hidup semuanya hanya sementara, kaki masih menginjak bumi, dunia kejam dan keji, aku lebih baik mati dimakan api ketimbang ditelan bumi. Terus kucoba menafsirkan , dan akhirnya kenapa ku mengamuk dari tidurnya, "Kenapa mereka bisa begitu santai? Dan aku tidak?" lalu meronta lagi "Kenapa kau tidak seperti mereka?"dan " Apa yang didalam isi kepalanya?" lalu sifat dan sikap agamais-ku yang dipadu si kenapaku menyatu "Siapa Tuhan-nya? Ajaran apa ini? Agama apa itu ? tidak etis sekali." Hampir meledak dan tak tertahan, akhirnya kulampiaskan pertanyaan-pertanyaan ini ke abangda Aron, sambil menulis dan berbincang, ada satu kata yang menampar "Kenapaku", dan kata-kata itu kujadikan senjata apabila si-kenapaku meraja lela. Kata-kata itu begini " Betul kata pram, hidup itu mudah penafsirannya yang susah, dan alangkah sombongnya kita, alangkah angkuhnya kita jika ingin menafsirkan hidup dengan kodrat kita sebagai manusia, ada kalanya rahasia tetap menjadi rahasia tanpa terkecuali, sama seperti pertanyaan, kenapa aku bisa begini? Kenapa aku jadi begini? Jawabannya adalah tidak tau, mungkin tau , tapi tidak tau mulai dari mana, ada kalanya biarlah ada porsi rahasia di dunia ini, karena lebih baik adanya, ketimbang terbuka semua, tau semua ."
Sombongku ya sombongku yang kelewatan, penasaran dan si kenapaku tidak bersalah, semoga aku bisa meredam sampai hari dimana dia jinak. Semoga aku bisa menjadi Tuan dan Puan dan Nyonya, sehingga di menjadi setia.
Jakarta. 29 agustus 2016.