Selasa, 29 Desember 2015

Pagi, Sore dan Malam.






Disini di dunia ini, dulunya hampa dan kosong, Roh melayang-layang, pesan ini kudapat dari mereka-mereka yang bersandar dalam kepercayaan ber-Agama.  Mereka mereka yang mendalami pengetahuan alam dengan gelar yang sangat tinggi menyebutnya dengan istilah teori Big Bang presepsi orang berbeda-beda,tapi aku lebih cenderung mengambil presepsi awal karena aku ber-Agama , aku tidak mempermasalahkan itu semua, bebas berpikir itu hak setiap manusia. Lalu langit itu tercipta, bumi dengan pondasi kuat yang tak menapak itu dengan gagah melayang di angkasa, itulah disana dunia baru yang indah sungguh indah, tempat untuk kita disediakan Sang Maha Kuasa. Tuhan adalah seniman handal, seniman dari segala seniman, menciptakan semuanya tanpa ada kekurangan satupun, siklus-siklus hidup yang terperinci , eksperimen-eksperimen warna yang dia ciptakan, melukis dunia ini dengan jentikan tangan, mewarnai langit dengan angkasa sebagai kanvasnya, begitu juga dengan bumi, disetiap goresannya selalu ada indah yang bermakna, dan segala makhluk yang didarat , diair maupun diudara semua baik adanya. Lalu Si Maha menciptakan kita segambar dan serupa dengan-Nya, katanya kita keturunan sang Adam bagi pria dan Hawa bagi wanita, tidak ada bagian untuk yang setengah pria maupun setengah wanita, bertobatlah kawan. Lalu Tuhan mensisipkan Kasih di kehidupan manusia, yang berakar-bulu menjadi kasih sayang, damai sejahtera, bela rasa, Cinta dan semua rasa , yang kita anggap baik maupun buruk. Lalu rasa itu dibiarkan berkumandang dan bertumbuh dalam setiap manusia, beranak pinak menjadi akal budi, fikiran dan perasaan. Sekian imajinasi ku tentang Si Maha Kuasa yang agung , yang kudamba ,yang ajaib dengan mujizat menciptakan Alam dan Semesta, Bumi dan segala isinya, dan aku terpesona , terimakasih Maha.

Aku selalu suka dengan langit saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Lalu berkuasalah si senja warnanya merah, kuning terkadang jingga dikarena warna merah dan kuning berpadu, mungkin ada warna warna lain yang tidak kuketahui,tetapi secara kasat mata 2 warna itu sudah mewakili apa yang dilihat oleh mata. Sering kubilang matahari mengantuk saat senja mulai berkuasa, atau sedang ingin menyendiri karena suatu kondisi, atau sedang ingin menangis lalu bersembunyi dan menyuruh si senja mengambil alih sebelum digantikan malam anggapan-anggapan tersebut kuungkapkan mewakili perasaan hatii.Lalu kuanggap matahari adalah seorang lelaki,karena aku lelaki dan cara ku mengungkapkan perasaan sama seperti dia sang matahari, karena lelaki tak akan membiarkan dirinya menangis di khalayak ramai, seperti seorang ayah yang tidak membiarkan anaknya melihat dia menangis, seorang lelaki ingin selalu terlihat kuat dan tegar,  walau pergumulan hidup yang berat, dan beban seberat kapal membebani punggungnya, dia tetap bersinar dengan ketegasan, berdiri gagah dengan kuda-kuda kuat layaknya serdadu yang siap diterpa ombak-ombak cobaan dan badai rintangan, karena lelaki punya waktu berkontemplasi, karena lelaki punya malunya tersendiri, tetapi semua orang punya malu sebenarnya tapi yasudahlah menurutku dia laki-laki , ya kami hampir sama.Berbeda dengan senja , aku rasa senja juga seorang laki-laki tapi lebih melankolis ketimbang matahari pagi, sinar merah, kuning dan kadang jingga itu hidup secara malu-malu, ya lelaki pemalu, muncul hanya sebentar ada sedikit klise atau ekspresi tentang sebuah perasaan yang berkumandang mendayu sedikit sendu, nikmat untuk merenung. Karena matahari tidak semelankolis senja, aku beranggapan bahwa si matahari lebih tua ketimbang si senja, aku merasa kekuatan matahari pagi sudah matang sebagai seorang Ayah  lebih tegas, lebih gagah dan lebih kuat. Dan untuk malam , ya malam itu indah sebenarnya walaupun pada konteksnya, malam itu lebih menyeramkan daripada pagi, lebih mencekam, lebih sendu, dan lebih hening, tapi entah kenapa aku lebih mencintai malam ketimbang pagi ataupun senja, aku ingin dibilang sebagai orang malam, aku selalu suka malam, aku mencintai keheningannya, aku damai dengan sendu yang dia sediakan dan rasa mencekam itu aku anggap teman, dan sekarang bukan rasa mencekam namanya, aku tidak tau namanya apa, tapi aku nyaman, aku selalu nyaman dengan malam , lebih berbaur kepada jiwa-jiwa yang sedang letih, aku menganggap gelap yang menjadi tipikal inti sang malam, adalah teman. Iya dia yang mendegar kesusahan-kesusahanku, dia yang menidurkanku lelap dari keletihan menghadapi pagi, dia yang memberi hening dan sendu ketika aku merindu, atau sedang sendu-sendu nya, dia yang menemaniku merenung. Dia setia saat kesusahan ku, dan aku sebagai teman hanya menikmati malam detik demi detik ketika pergumulanku,masalahku dan kesusahan yang ku alami sudah berada pada titik nadir, tapi dia setia menjadi teman. Aku anggap di seorang perempuan, karena perempuan kuat dalam hal perasaan dan emosional,  seperti Ibu yang senang menyenangkan hati suaminya, anak-anaknya dan keluarganya, seperti tangannya mengusap lembut kepalaku ketika aku belum tidur, seperti Ibu yang dengan kekuatan magisnya dapat menyulap sampan kecil yang dinahkodai ayah, menjadi kapal pesiar yang mewah,Seorang ibu yang meredahkan air mataku dengan cara pelukan, yang damainya entah dari mana, membuat aliran itu redah, Ibu yang tau meredahkan emosi suaminya, aku terpesona dengan itu aku mencintai malam.

Tuhan maafkan aku yang mencintai malam lebih dalam ketimbang pagi. Aku selalu takut dengan pagi yang menyiapkan problema, kesusahan , pergumulan, beban hidup dan air mata, aku selalu takut menantang pagi, sekarang aku tau semua punya porsinya masing masing, sebagaimana pagi, sore dan malam, mereka mempunyai porsinya masing-masing, Tuhan aku mengerti kenapa pagi yang gagah , sore dengan senjanya yang melankolis, dan malam yang menyendu mempunyai masing-masing periodenya untuk berkuasa atas langit . Tuhan aku tahu kenapa Engkau memisahkan Pagi dan Malam, dan Sore yang berada ditengah tengahnya, Tuhan aku tau. Aku tau sekarang, agar manusia tidak terus-terusan terlena pada pada kegagahan pagi yang meniupkan semangat baru, untuk beraktivitas seperti budak-budak kerajaan pada masa lampau, atau menciptakan uang sebanyak-banyaknya, dan menjadi manusia-manusia yang cinta uang, agar manusia tidak terlena pada kegiatan dan kecintaan pada pekerjaanya, agar manusia tidak sibuk sendiri oleh dunianya, dan masa bodoh atas dunia yang indah ini yang kau ciptakan dan baik adanya, Aku tau kenapa Tuhan, engkau memberi kesempatan pada Senja bersinar di sore hari, diantara pagi dan malam, sebagai pemisah, aku tau Tuhan kenapa engkau memberinya periode hanya sebentar tidak selama pagi dan malam. Agar manusia-manusia tau belajar mengasah perasaan, agar kita tau bagaimana punya rasa, sedikit bermelankolis itu anugerah Maha kuasa, terlalu tegas dan serius juga menyeramkan. Sore diciptakan-Nya untuk sedikit menghargai hidup, bersenang-senang, bersantai, Manusia diciptakan tidak hanya untuk serius menghadapi hidup, terkadang butuh canda tawa, kebahagiaan dan sedikit asmara tertabur didalamnya. Tuhan mengerti kita dengan sedetail-detailnya, sempurna, dan mengasihi kita. Tuhan tau bagaimana ciptaan-Nya, seutuhnya tau. Dan untuk malam bagi aku pengagum dan mendambakannya, sebagai peristirahatan terakhir bagi jiwa-jiwa yang letih, bagi hati yang panas, bagi fikiran yang terbakar , bagi mereka untuk merenung, Tuhan menciptakan porsinya, memberi kesempatan bagi kita untuk mengingat-Nya, untuk berdoa, untuk menenangkan diri, Tuhan menciptakan malam sedemikian rupa, sedikit keheningan, gelap berpaut dengan tiga per empat cahaya bulan, dengan dingin yang mengelus pelan bagian luar kulit kita dengan manja,karena sudah cukup dihangatkan oleh panas matahari, terimakasih Tuhan atas semuanya , atas Pagi , Sore dan Malam.

Terimakasih atas langit dan bumi dan segala isinya, semua ini indah, Maha tidak mungkin menciptakan sesuatu yang menyebabkan hal buruk terjadi. Kita berkuasa atas darat dan laut dan isinya, dan apabila terjadi hal buruk, tangan manusia lah yang menyebabkan hal itu terjadi, alam berdoa meminta izin memberi kesempatan agar dirinya mampu membela diri , semua punya keindahannya masing masing. Syukuri apapun itu, sedikit nasihat yang sering kudengar dari Ibu yang melahirkan aku, dia sering berkata begini "Nak syukuri walau sebutir nasi dihadapanmu" yang secara harafiah dia menjelaskan begini Tuhan tidak mungkin jahat karena hanya memberi sebutir nasi, Tuhan punya rancangannya sendiri atas hidup kita, lebih baik sebutir daripada tidak sama sekali, syukurilah apa yang dihadapkan terhadapmu, apa yang diberi sang Maha kepadamu, diluar sana banyak anak yang meringis kelaparan, bahkan berharap air menetes sekali saja kepangkal lidahnya, Tuhan punya caranya masing-masing, yang selalu baik adanya, mungkin besok kita bergelimangan makanan jadi syukurilah sekarang, syukuri apapun. Kata cukup lebih bermakna apabila bersyukur ketimbang berlebih. Sama seperti aku yang berharap malam bisa lebih lama ketimbang pagi,karena semua punya sisipan anugerah,Tuhan tau batasan cukupan untuk ciptaannya. Sekali lagi aku berterimakasih kepada Tuhan, aku berharap bisa belajar lebih tentang kata bersyukur. Terimakasih semoga diberkati.